Wanna search something?

Sunday, January 01, 2017

END-YEAR SHORT GETAWAY: SOREM!


Study On Rural Empowerement (SOREM) merupakan salah satu program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh DEMA Pertanian UGM. SOREM kali ini diadakan di Sureng I, Tepus, Gunungkidul pada tanggal 20-22 Desember 2016. Awalnya sempat malas tak ingin ikut, tapi sebagai mahasiswa, daripada nanti menyesal, apalagi habis UAS tidak punya kegiatan alias gabut, akhirnya aku mendaftar SOREM. *thanks to Shabby yang benar-benar meyakinkanku ikut SOREM dan aku nggak menyesal hehe*

Sore itu tanggal 20 kami sudah sampai di Sureng I, lebih cepat 1 jam dari jadwal karena ternyata jalan tidak macet. Kami menunggu di rumah pak Jafar, Ketua RT 04, sambil ngobrol satu sama lain sesama peserta SOREM karena kami memang belum saling mengenal ehehe. Hingga adzan maghrib tiba kami menuju ke masjid setempat tidak jauh dari rumah pak Jafar. Kondisi masjid cukup bagus, tetapi agaknya jarang dipakai karena waktu kami masuk perlu disapu dahulu sebelum melaksanakan sholat. Warga setempat hanya tampak satu orang yaitu seorang bapak-bapak sepuh. Selesai sholat kami kembali ke rumah pak Jafar dan wohooo! Sudah banyak bapak-ibu asuh yang berkumpul! Oke, aku mengucapkan salam perpisahan kepada teman-teman sekitarku dan bercanda, “Heheheh nanti main ke rumahmu y” wkwkwk. Setelah aku dipanggil, aku mendapat orang tua asuh yaitu keluarga bapak Ngadiyanto. Yang menjemputku adalah seorang ibu-ibu masih cukup muda dan cukup “nyentrik” rambutnya agak semacam diombre dan kekinian seperti ituh hehehe. Kemudian aku diantar sampai ke rumah.

Oke, mari kita bercerita tentang keluarga ini. Dari keluarga besarnya dulu ya biar nanti bisa dong a.k.a jelas. Kakung Adi dan Mbok Karti merupakan sepasang suami istri yang mempunyai 4 anak yaitu Ngadiyanto, Wasi, Sri, dan Sutoyo. Nah, aku mendapat orangtua asuh yaitu anak pertama, pak Ngadiyanto. Keluarga pak Yanto terdiri dari tiga orang yaitu beliau, istrinya yaitu Mak Ji, dan seorang putranya yaitu Fiqih. Pak Yanto merupakan seorang buruh pembuat genteng di daerah Godean. Dalam sebulan, beliau hanya pulang 2 kali ke rumah, dan pada waktu aku berada di rumahnya, beliau belum pulang, jadi aku nggak tau deskripsinya hehe. Istrinya, Mak Ji, masih cukup muda usianya 32 tahun, 5 tahun belakangan ini mengidap penyakit gejala stroke. Tangan kanan Mak Ji tidak bisa digerakkan secara sempurna dan hal itu membatasi kemampuannya beraktivitas. Dahulu Mak Ji juga bekerja menjadi buruh pembuat genteng bersama sang suami. Putra semata wayangnya, Fiqih, masih kelas 4 SD. Mak Ji pernah bercerita dahulu beliau pernah hamil dan Fiqih senang sekali mendengarnya karena dia ingin punya adik. Namun, akibat penyakit yang dideritanya, Mak Ji tidak yakin atas kehamilannya dan pada akhirnya beliau keguguran. Yang menjemput aku dari rumah pak RT tadi bukan Mak Ji, tapi Mak Sri, si putri ketiga. Mak Sri mempunyai dua orang putri yaitu Meli yang masih kelas 5 SD dan Nita yang masih TK. Aku nggak sempat ketemu suaminya Mak Sri jadi ku tidak tahu wkwk. Nah, keluarga pak Yanto hidup bersama keluarga pak Wasi, adiknya *eaaa hidup bersama eaaaa. Keluarga pak Wasi terdiri dari 4 orang anggota keluarga yaitu beliau, istrinya yaitu Mak Ribut (seriously namanya Ribut dan Cuma Ribut doang nggak ada embel-embel apa. Re: siapa tau ada yang kepo), kedua anaknya yaitu Agus kelas 2 SMP dan Bagas masih PAUD. Pekerjaan pak Wasi serabutan di Kota Yogyakarta dan terkadang nyambi di ladang. Ngomong-ngomong soal anak ke-4 yaitu Sutoyo a.k.a Kang Toyo, aku nggak tau persis karena beliaunya sedang tidak ada di rumah tapi sering disebut-sebut sama mereka. Kang Toyo bekerja sebagai buruh di pabrik wajan di Kota Yogyakarta dan masih lajang #fyi. Kata Mbok sih belum mau menikah gitu. Udah segitu aja intro dari keluarga ini hehe. Oiya mau ngasih tau lagi, tahun lalu yang dapat anak asuh adalah Kakung dan Mbok, dan tahun ini gantian anaknya gitu, dan si Mbok nanya-nanyain mas Bimo terus (anak asuhnya tahun lalu) dan well aku nda kenal Mbok:(


Ini keluarganya:D Kanan ke kiri: Mak Ribut, Mbok Karti, Aku, Mak Ji, Mak Sri, Nita, Meli, Fiqih, Bagas.
Keluarga Pak Yanto tinggal di sebuah rumah kecil yang dibagi dua dengan adiknya, keluarga Pak Wasi. Oke, ini benar-benar dibagi dua dan rata karena di bagian tengah ada temboknya. Rumah itu baru setahun yang lalu dibangun. Masih tampak sana-sini hal yang kurang seperti jendela dan daun pintu permanen. Lantainya masih semen dan itu hanya di ruang tamu, jadi sisanya tanah. Masing-masing bagian keluarga ada 1 ruang tamu, 1 ruang tidur, 1 ruang barang-barang, dan 1 dapur. Rumah itu masih belum punya kamar mandi dan WC. Di rumah itu benar-benar tidak ada sumber air. Dua keluarga itu biasa mengambil air di rumah Kakung dan Mbok yang letaknya di bawah seberang jalan rumah mereka. Oiya, kalo ngomong keras-keras pasti seisi rumah terdengar wkwk.


Rumah tampak depan

Keadaan isi rumah benar-benar kurang, apalagi milik keluarga Pak Yanto. Harap diingat karena rumah ini dibagi dua, kadang aku pun berada di rumah Pak Wasi hehe. Di ruang tamu ada sehelai tikar cukup besar, sebuah meja, dan televisi. Di kamar tidak ada kasur, hanya dua lembar tikar, tidak ada furniture lain kecuali sebuah rak untuk menyimpan baju-baju, buku-buku milik Fiqih, dan sebuah meja kecil untuk menaruh makanan dan minuman. Di ruang barang-barang, kosong, hanya ada beberapa perkakas dan tampak kotor. Di dapur pun sama saja, tidak banyak peralatan dapur pada umumnya yang Mak Ji punya. Kalau boleh jujur, keadaan pak Wasi masih lebih baik daripada pak Yanto.

          Suasana rumah pada saat aku datang cukup ramai. “Kalo nggak ada njenengan nggak seramai ini, Mbak.”, begitu kata Mak Ji. Etdah q jadi tersipu. Tapi emang bener sih, di rumah hitungannya  cuma berdua sama Fiqih. Ngomong-ngomong, Mak Sri lah nanti yang akan “mengurus” beberapa kebutuhan selama aku disini karena keterbatasan Mak Ji. Apalagi pagi sebelum aku datang, Mak Ji jatuh saat mengambil air sehingga tubuhnya lebam dan luka-luka. Kung Adi dan Mbok Karti juga datang malam itu dan kami mengobrol hingga pukul 21.30 yang kalau disana dianggap sudah cukup larut. Anak-anak pun biasanya tidur pukul 19.00. Tapi akibat kedatanganku mereka jadi tidur pukul 21.00.  Aku pun tidur di ruang tamu bersama Fiqih dan Meli yang menginap selama aku disini. Well, tidur benar-benar hanya di atas sehelai tikar. Bukan gimana-gimana atau gimana ya, tapi aku kasihan keluarga ini kasur untuk tidur saja tidak punyaL Btw, aku juga masih bisa tidur dengan nyaman, aman, dan tenang kok. Biasa makrab pas-pasan jadi ya dah biasa waqaqa.

Pagi hari, Rabu, 21 Desember, aku bangun terbangunkan alarm HP pukul 04.30 dan lekas mengambil air wudhu di gentong air dapur. Ngomong-ngomong soal sholat, disini nggak pernah ada adzanL. Mak Ji juga sudah bangun, tinggal anak-anak yang masih terlelap. Selesai sholat kami memulai kegiatan di dapur. Agak sempit aku jadi kikuk. Btw bukan gimana-gimana, di rumah, rumahnya dulu punya Simbah jadi rumah jaman dulu kan masih luas gitu ya, ya ya jadi biasanya ya hehe. Mak Ji menyalakan api dan memasak air, aku mencuci peralatan bekas semalam. Oke, Mak Ji tidak punya busa cuci atau mungkin plastic sehingga aku menggosok dengan tanganku sendiri. Mencuci pun tidak boleh bisa banyak-banyak airnya supaya tidak boros dan harus mengambil air. Sebenarnya masih kurang bersih tapi yaudah lah ya kayaknya nggak papa. Kemudian aku menggoreng tahu dan tempe. Tak lama, Mak Sri datang membawa beberapa sayuran yaitu daun papaya, kembang papaya, dan papaya muda, oke semuanya pepaya. Mak Sri juga membawa “gude”, semacam biji-bijian mirip kedelai yang katanya enak. Aku sendiri baru kali ini melihatnya. Gude tadi disayur bersama pepaya muda yang sudah dipotong-potong. Kuah sayur gude ini agak kehitaman, “Memang begitu mbak nek nyayur gude.”, kata Mak Sri. Setelah sayur gude matang, kami membuat oseng daun dan bunga pepaya pedas. Satu yang paling aku notice ketika memasak, beliau-beliau ini kalo ngasih MSG cukup banyak yha hmm mantap. Mak Sri tadi juga sudah membawa nasi jagung yang sudah matang. Sambil menunggu masakan matang, aku dan Meli mengambil air dibawah di rumah Mbok. Ember pertama belum terasa apa-apa, ember kedua masih kuatlah, sampai ember ketiga dan aku disuruh berhenti oleh Mak Ji. Oke sepertinya beliau melihat napasku terengah-engah jadi tidak tega, duh aku jadi malu huft lemah. Saat masakan sudah matang dan siap kami semua berkumpul di ruang tamu dan sarapan pagi bersama, ada Mbok juga datang. Sarapan yang sederhana tapi nikmat, Alhamdulillah. Yang paling bikin trenyuh sih masa Mak Sri bilang, “Mbak, ini kalo nggak ada njenengan biasanya nggak pakai lauk lho, oseng tok.”. Ya Allah padahal aku di rumah kaya apa:((

Ini yang namanya sayur "Gude"

My breakfast, yummm :D

Selanjutnya aku dan Aulia, anak asuh keluarga Pak Wasi, diajak pergi ke ladang oleh Mbok Karti. Keluarga Pak Yanto maupun Pak Wasi bukan petani sehingga yang masih sering ke ladang adalah Kakung dan Mbok. Kami menuju ladang yang tidak jauh dari perkampungan. Ladang milik Kakung dan Mbok cukup luas dan ditanami berbagai palawija. Mereka juga memelihara 2 ekor sapi. “Niki pas wayahe mboten wonten gawean, Mbak.”, begitu kata Mbok sehingga aku dan Aha hanya berkeliling melihat ladang, super gabut dan nirfaedah sebenarnya hehe. Namun, kami sempat membantu mencabuti kacang sisa jarahan kera-kera yang turun bukit, memetik beberapa jagung untuk dibuat bakwan, dan memberi pakan sapi. Ngomong-ngomong soal kera, memang sering kera-kera tersebut turun bukit dan menjarah tanaman warga. Tapi juga tak jarang para warga "hunting" kera untuk dimakan dagingnya, dimasak tongseng begitu katanya, kata Fiqih sih gitu, like yeah seriously kera?!?! Selain kera, mereka juga suka masak tupai a.k.a bajing, yang suka berkeliaran di pohon kelapa itu lho. Ckck.

Salah satu sudut ladang Kakung & Mbok
 
Sapinya Mbok. Seekor harganya 26jeti baru beli 3 bulan lalu katanya.



 Di ladang ini ada gubuk singgahnya juga. Ada tempat duduk-duduk dari kayu, kolam air tadah hujan (biar kalo ngasih minum sapi nggak ribet mbak, kata Kakung), dan perapian (biar nggak digigitin nyamuk, kata Kakung). Rasanya pengen mandi di sana serius, tapi yang bisa mandi cuma anak-anak kecil. Yakali sih mandi disana, padahal juga dibolehin loh HAHAHA.


Mak Ribut dengan jagungnya
 
Mandinya di sebalik itu dan super sueger dan menyatu dengan alam ehehe


Senapan angin milik Kang Toyo


Kami tidak lama-lama di ladang dan terus pulang ke rumah. Sesampainya di rumah aku turun ke rumah Mbok untuk bersih-bersih. Kamar mandi di rumah Mbok seperti kebanyakan kamar mandi di sini, intip-able. Tinggi dindingnya cuma dibawah pundak dikit. Aku tiap mau mandi pasti celingak-celinguk dulu, siapa tau ada yang ngintip atau ada kamera tersembunyi #suudzon hehe. Selesai mandi kami bersiap untuk bazaar murah di masjid. Sebelumnya makan siang dulu hehehehe. Btw, Mak Ribut bikin bakwan jagung beneran. Yang unik adalah this is seriously corn only, i mean without wheat. Jadi biji jagung itu ditumbuk terus dikasih bumbu terus udah digoreng aja. Agak atos begitu yha tapi enak. Maaf nggak ada potonya hehe.

Aku, Aha, Mak Sri, Mak Ribut, Mbok Karti, dan anak-anak bersama-sama menuju bazaar murah. Fiqih awalnya tidak mau ikut. Tampaknya Mak Ji tidak punya uangL Tapi akhirnya dia ikut karena di rumah juga sepi. Suasana bazaar sudah cukup ramai saat kami datang. Para ibu segera memilih-milih baju yang akan dibeli sedangkan aku dan Aha bermain dengan anak-anak di pelataran masjid. Saat bermain aku berkenalan dengan anak-anak lain yang super lucu dan menggemaskan, serasa ingin dibawa pulang, terutama si Dendi!   

Ini si Dendi, paling lucu pas senyum soalnya ngga punya gigi. Sayang ini dia pas mingkem ehe.
 
Kegiatan bazaar murah berlangsung cukup lama karena ibu-ibu menunggu hingga detik-detik terakhir harga per potong baju 500 rupiah. Aku dan Aha sendiri memutuskan untuk membelikan adik-adik asuh kita baju. Aku juga tidak tega pada Fiqih soalnya:( Acara bazaar murah selesai dan satu jam selanjutnya adalah acara vertikultur botol untuk anak-anak. Mereka tampak bersemangat dan antusias menanam bibit tanaman pada botol-botol gantung yang telah diisi media tanam. Acara sore itu diakhiri dengan foto bersama karya masing-masing.

Adeq2 unyu apalagi yang pake jilbab coklat baju merah:D
 
Panitia & peserta yeheee

Aku, Aha, dan anak-anak kembali pulang ke rumah. Sampai disana sudah berkumpul lengkap di ruang tamu keluarga Pak Wasi, wedangan istilahnya. Pokoknya setelah aku amati memang kebiasaan tiap pagi dan sore adalah wedangan bersama dengan menu yang selalu ada yaitu roti bunder a.k.a singkong goreng dipotong-potong. Aku sendiri menikmatinya ehehe.  Kami kemudian lanjut makan malam, masih dengan masakan tadi pagi. Rasanya tetap enak karena bersama-sama. Setelah makan selesai kami masih berbincang-bincang hingga sudah waktunya aku dan Aha berkumpul di rumah pak RT untuk koordinasi volunteer. Saat kami pulang lagi ke rumah, anak-anak sudah terlelap, begitu pula para orang tua. Maka, kami pun ikut menyusul tidur karena rencana esok pagi kami akan diajak jalan ke pantai Ngitun yuhuuuuu~~

Pagi, Kamis, 22 Desember, pukul 04.00 aku sudah bangun (tanpa alarm, aku bangun duluan daripada alarmnya) begitu pula Aha karena suaranya sudah terdengar di ruang sebelah. Kami berdua pamit turun untuk sholat subuh pukul 04.30. Saat kami selesai dan kembali, ternyata anak-anak sudah mulai melek. Pukul 05.00, aku, Aha, Fiqih, Meli, Agus, dan Bagas berangkat jalan kaki ke pantai Ngitun yang jaraknya 3 km dari kampung. Baru beberapa langkah, eh si Bagas nangis karena ditinggal sang kakanda yaitu Kang Agus. Seriously manggilnya “Kang Agus” wkwk lucu e. Oke sebenarnya ada Bagas menghambat laju perjalanan kami hft. Tapi Mak Ribut sepertinya tidak tega dengan tangisan Bagas. Andai aku Mak-nya Bagas, beh getak pisan ra manut guwang wqwqwq. Di jalan yang berbatu kami pun tidak bisa berjalan cepat, kasihan Bagas lah, kakinya kan kecil. Akhirnya dia ku gendong sesekali hingga sampai ke pantai. Untung Bagas masih kecil jadi nggak terlalu berat juga gendongnya ehehe. Perjalanan yang cukup melelahkan terbayar dengan pemandangan pantai Ngitun. 

Oke jalanannya itu doesnt easy as it seems ya

Kami sampai di pantai pukul 06.15, lumayan cepat ini karena katanya biasanya kalo anak cowok itu 1 jam jalan kalo anak cewek bisa sampe 2 jam hanya untuk jalan ke pantai. Di sana rupanya sudah ada Eka dan Mbak Fatma yang tadi diboncengkan motor ayahnya saat kami hanya jalan kaki #kampret. Anak-anak bermain air dan mandi di pantai. Aku hanya sesekali bermain air dan mengambil beberapa foto Polaroid, anak-anak minta kenang-kenangan. Ada yang unik dari pantai Ngitun yaitu tentang sebuah batu yang tidak boleh dipegang karena kalau dipegang bisa jadi gila, begitu yang diceritakan Meli yang kemudian aku ceritakan kepada Mbak Fatma. “Weh dek, aku lupa, aku tadi nggak sadar megang batunya lho.”, kata Mbak Fatma yang membuatku tertawa dan menggodanya, “Eh jangan gitu to Mbak Fat, aku nggak mau ngasih kabar ke kampung kalo kamu jadi edan mbak hahahaha.”, yang membuat Mbak Fatma cemberut. Beberapa rombongan juga datang yaitu Sekar dkk yang semalam ngajak berangkat pukul 05.00 eh ternyata malah aku yang beneran jam segitu dianya yang molor ew. Menjelang pukul 07.00, Mak Sri dan Pak Wasi sudah datang menjemput kami. Ya, perjanjian awal memang begitu, kami berangkat jalan kaki kemudian pulangnya baru dijemput hehehe. Setelah anak-anak membilas tubuh, kami lekas pulang. Nggak sempat foto-foto banyak, selain refill polaroid yang limited, hapeku low batt hiks:(

Bersama bocah-bocah
Ayuk-Sekar-Me

Oke, perjalanan pulang ini cukup ekstrim pemirsa. Pak Wasi, Aha, dan Bagas satu motor. Aku, Mak Sri, Nita, dan Meli satu motor, ini agak overload ya. Benar saja pada saat tanjakan tercuram, baru juga seperlima jalan, motor sudah macet dan cepat-cepat aku turun karena masih ingin hidup. Jadilah aku jalan kaki dengan para bocah lelaki yang jalan kaki yaitu si Fiqih dan Agus. Entah, tanjakan itu terasa super berat bagiku sehingga aku ditertawai bocah-bocah itu. Yakin deh itu paling sekitar yah 60-70 derajat kemiringannya. Mak Sri sudah menunggu di atas. Perjuangan belum selesai sampai disitu. Jalan yang berbatu membuat motor “ngogel-ngogel” yang untungnya Mak Sri sudah mahir, Alhamdulillah yah. Aku dengan berdebar memegang erat sadel motor. Jalan berbatu tak apa, tapi jatuh itu sakit, itu kata-kata Mak Sri yang oke itu memang benar. Mak Sri sendiri bilang kalau hujan dia sendiri tidak berani. Memang sih tanah liat bikin super licin. Aku cukup lega saat sudah masuk jalan perkampungan. Sampai di rumah aku benar-benar lemas hingga Mak Ji bertanya, “Njenengan kenapa, Mbak? Ketoke kok lemes tenan.”, duh lagi-lagi aku jadi malu #lemah. Setelah itu Mak Ji menyuruhku mengambil air. Karena itu adalah hari terakhirku disana, aku mencoba berbuat lebih banyak dan aku berhasil mengambil 4 ember air. Tidak banyak sih, hanya selisih 1 ember tapi Mak Ji sudah senang wkwk. Kemudian aku bersih-bersih dan bersiap packing pulang.

Pukul 12.00, aku dan Aha menuju ke rumah pak RT untuk makan siang bersama dan mengambil jatah sembako untuk keluarga asuh. Setelah itu kami kembali lagi untuk berpamitan. Ya, akhirnya ini waktunya pulang, berpisah dari mereka.. Aku hanya membawa satu buah kenang-kenangan, dan kalau sesuai keluarga asuh, aku hanya bisa memberi pada Mak Ji. Padahal, seluruh keluarga besar ini mengurusku. Mereka juga memberiku oleh-oleh sekardus pula. Duh aku jadi super nggak enak:(:(:( Mbok Karti, Mak Ji, Mak Sri, dan Mak Ribut berlinang air mata, Meli malah benar-benar menangis. Etdah bocaaah:(:( Aku sendiri tidak bisa menangis karena aku merasa ini bukan kali terakhir kita bertemu tetapi suatu hari nanti aku pasti akan kembali lagi kesana…

Sewaktu pamitan pulang :'D
Banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari mereka, ditengah kesulitan dan keterbatasan yang mereka hadapi. Terutama tentang arti bersyukur. Masalah kesulitan akses air yang menjadi salah satu kebutuhan utama membuat kebersihan diri dan lingkungan keluarga ini kurang terjaga. Sanitasi dua keluarga ini terbatas. Anak-anak apabila ingin buang air kecil langsung menuju ke halaman depan rumah dan (re: maaf) tanpa cebok maupun cuci tangan. Keterbatasan Mak Ji pula membuat rumah sedikit tidak terurus dan terlihat kotor. Anak-anak sendiri tidak punya hiburan lain selain nonton sinetron dan bermain game di HP. Makanan yang dimakan juga sangat sederhana dan tiap hari kami pasti makan singkong. Daging dan telur adalah makanan yang mewah bagi mereka.  Akses kesehatan masih cukup jauh. Begitu pula kegiatan rohani masyarakat yang kurang aktif. Masih banyak kekurangan lain yang membuat aku bersyukur atas kehidupan yang aku jalani sekarang kala membuka kran air masih keluar airnya bersih dan lancar.

Mahasiswa punya peran yang besar dalam menghadapi permasalahan di masyarakat seperti ini. Contohnya di Sureng I ini, mahasiswa Pertanian UGM sudah mulai membantu para petani dengan membagi pembasmi hama organik. Seharusnya hal ini perlu diikuti oleh mahasiswa dengan disiplin ilmu lain seperti medika dan teknik. Aku sempat berbincang-bincang dengan Mak Ji dan Mbok Karti tentang penyakit yang diderita Mak Ji dan banyak informasi-informasi kesehatan yang ternyata beliau-beliau belum mengerti. Mahasiswa kelompok studi maupun yang suka melakukan penelitian dapat terjun langsung dan menerapkan ilmunya. Satu hal yang membuat aku gemas adalah kala mengambil air yang naik turun. Hal ini dapat sedikit diatasi dengan membuat katrol sederhana yang pasti itu akan sangat mudah dibuat oleh mahasiswa teknika. Bisa bermanfaat banget kalau mereka-mereka yang researcher langsung terjun mengatasi masalah di masyarakat. Selain itu aktivitas rohani warga perlu lebih ditingkatkan dan ini memerlukan pengorbanan dari orang-orang yang benar-benar ingin mengabdi kepada Allah.

Kegiatan SOREM yang diadakan oleh DEMA Faperta UGM ini menurtku sudah banyak membantu baik untuk warga kampung maupun peserta volunteer. Kami bisa “bertukar kawruh” satu sama lain. Sebetulnya kegiatan pengabdian masyarakat seperti ini sebaiknya dilakukan dengan tenggang waktu lebih lama, misalnya seminggu. Namun, aku sendiri mengerti keterbatasan kemampuan panitia tapi apabila hal itu bisa direalisasikan pasti mengabdinya akan lebih terasa. Beneran deh sumpah wkwk. Aku berharap kegiatan SOREM ini bisa terus diadakan tiap tahun supaya mahasiswa sedikit banyak bisa merasakan kehidupan nyata yang kejam dan keras dan air susah.

Terlebih dari itu semua, jangan lupa, beneran deh, banyak-banyaklah bersyukur.  Terima kasih SOREM, aku punya keluarga baru! :)

*im waiting for next year's SOREM:p 

Tuesday, December 13, 2016

Review: Raisin Resto & Kitchen

          It's tuesday! Wkwkwk terus ngapa? Gpp. Hari ini masih UAS, matkul Dasmen, yagitulah skip aja. Selesai UAS jam 11.00, sebenernya udah janjian sama bulek Tika & Fian hari ini mau jalan-jalan kulineran ke Raisin, tapi mereka berangkat dari mBantul habis dzuhur. Aku di kampus kemudian bingung mau ngapain dan akhirnya karena keburu laper aku ngajak temen-temen makan ayam geprek di warung biasanya ehehehe. Ngobrol di warung geprek lama banget ngomongin wacana foto studio buat skema 12 HAHAHA. Terus udah jam 13.00 cus balik ke faperta ambil motor. Ternyata bulek Tika & Fian dah sampe Raisin, yaudah saya cus kesana.

       Raisin Resto & Kitchen merupakan sebuah restoran yang terletak di Jalan Sagan III No. 5, Yogyakarta, terbilang masih baru, ya awal-awal tahun 2016 gitu lah. Pokoknya tempatnya deket sama asrama Kinanthi Sagan, yang kamarnya paling pojok timur pasti keliatan wkwkw. Konsep dari restoran ini adalah healthy, tasty, and chill ambience--gitu sih kata instagramnya hehe. 

Di pintu masuk kalian bakal disambut sama art-lettering ini, art letteringnya lho, bukan aku-nya hehe

        Restoran ini tidak terlalu besar, parkirannya juga kecil, masih agak gersang gitu halamannya. Warna dasar bangunan putih dan hijau dengan art lettering dimana-mana. Tempat duduk ada di dalam dan di luar. Yang di dalam sih adem, yang di luar semacam di teras gitu agak panas sih. Desain interiornya bagus. Tapi memang lebih keliatan wow kalau malam hari soalnya main lightingnya. Aku, bulek Tika, dan Fian memilih tempat duduk di dalam. Selanjutnya kami pesan makanan. Aku sendiri agak tertarik dengan smothie bowl-nya, karena tampaknya di foto instagram itu enak dan besar ehehe. Aku pesan Fish n Chips dan Smothie bowl, bulek Tika pesan Raisin Chicken Rice dan Ice Lemon Tea, Fian pesan Nasi Goreng ala Raisin dan Ice Coffe Vietnam. Nunggunya nggak lama-lama amat sih. Kebetulan juga saat itu resto lumayan sepi. Di dalam hanya terisi 8 orang termasuk kami dan seorang mbak-mbak di luar.


This is it! :D


Raisin Chicken Rice, 26k
        Raisin Chicken Rice terdiri dari nasi, ayam, dan lalapan seperti di foto hehehe. Enak. Potongan ayamnya itu legit, nggak tau bumbu apa, manis-manis gurih gitu.


Fish n Chips, 48k
        Fish n Chips. Seperti fish n chips pada umunya sih. Nggak ada yang spesial atau yang beda. Mungkin yang agak beda di saus mayonesnya aja, ditambahin semacam ketimun or something. Lagi pengen makan ikan aja jadi pesen ini heheheh :D Sebenernya ada menu Dori Sambal Matah, sama sih cuma pake sambel matah dan nasi. Tapi lagi males pedes-pedes soalnya tadi dah makan geprek wkwk.


Smoothie bowl, starts from 35k
        The highlight in this restaurant, the smoothie bowl! Ada bermacam-macam smoothie. Yang difoto itu Red Tornado with Kiwi, Banana, and Choco Cereal toppings. Lebih jelasnya itu smoothie buah naga+pisang+apa gitu lupa+almond milk dan jadilah smoothie kemudian ditaburi topping itu. Makin banyak topping tambah 2rb pokoknya. Ekspektasi bowlnya bakal lumayan besar tapi ternyata ya ya kecil sih kalo menurutku ehehehe. But, it's delicious!


Interior di dalam, btw aku juga nggak ngeh itu kepalanya siapa


Interior di luar

        Overall, rate buat Raisin 7/10 lah. Oiya harganya termasuk murah menurutku untuk resto sekelas Raisin di Jogja. Mana kayaknya tadi nggak ada PPN wkwk.

Thanks for reading :D

Sunday, December 11, 2016

Dear: You

I dont know, i dont know why this is still happened to me.
It's you, since a long time ago. I dont have any other thing, it's just you.
I used to be your sister's best friend, you were always with her wherever she went, and because of that we could be that close too. My whole family knows you and her. We're growing up together as well. And then, it's so classy, but i felt that i fall in love with you. I knew you felt that but you never said anything. You never changed, you're still the old him, and you still -what i consider as- love me. But later, when this life is really slapped me, the reality hit me, i know, i know that you and me couldn't never be us.

You belong with me, they said
But you cant be, my mind said
I know you want him but.., the little heart said.

There is a huge gap between us. I can't tell but yea, i realized that. You're like a star in the sky, i can see you every night and always be there, but to reach you, it's an impossibility. I've tried, don't you ever think that i never fight for you. I knew my limit so finally i said that you are an impossibility. I was searching to chase another one, and i found it. It wasn't that easy for me, dont you think that i forget you easily. Well, i'm trying now, darling, trying to love him. But i know, my love is still remain for you. I'm still thinking of you until this day, though i'm with him now. Everything about you, i heard from anyone around me, sometimes makes my day a lil brighter. I still cry sometimes, though he's trying to make me happy. I imagine if we can go through all of this life together but we can't, it makes me cry. Am i happy with him, baby? I like him, he's a good boy, but not that much. He's mine but he's a stranger to me sometimes. I'll be with him forever, baby, can i really really forget you-the one who has filled up a half of my life-?

Thursday, November 24, 2016

AGRONESIAN #4

Hello! Im back! Hehehehe. Kali ini aku mau cerita tentang Agronesian! Enjoy!

        Setelah aku culik info sana-sini, terutama dari post di grup Line Foska Agroharmoni, Agronesian adalah event cultural setiap tahun sebagai bentuk kaderisasi dari Foska yang dilakukan oleh, dari, dan untuk anggota kelompok studi se klaster Agro Universitas Gadjah Mada. Jadi, kelompok studi se klaster agro yang terdiri dari Pertanian (Klinik Agromina Bahari), Teknologi Pertanian (Agritech Study Club), Kehutanan (Forestry Study Club), Peternakan (Forum Studi Mahasiswa Peternakan), dan Kedokteran Hewan (Veterinary Science Community, Kelompok Studi Hewan Liar, Kelompk Studi Hewan Kesayangan) bersatu dibawah naungan Forum Studi Klaster Agro (Foska). Tujuannya adalah agar lebih mengenal dekat sesama klaster agro.

       Agronesian tahun ke-4 diadakan pada 5-6 November 2016 di Tlatar, Wonokerto, Turi, Sleman, salah satu desa binaan dari BEM KM UGM. Pagi itu kami berkumpul di FTP, kemudian pukul 07.30 berangkat menuju lokasi naik sepeda motor. Aku sendiri sudah mengenal beberapa teman sejak TM kemarin. Peserta paling banyak dari ASC, dan yang paling ngenes dari FKH karena yang bisa keluar hanya dari VSC huhu:( dan merekapun datang telat karena ada praktikum. Aku sendiri dari KAB ada 6 orang, alhamdulillah wehehehe. Sekitar 45menit kami sampai di Tlatar. Kami menempati rumah salah satu warga yaitu milik Mbah Darmo yang tinggal bersama anak dan cucunya yang lucu, Niko dan Risa.

Perkumpulan yang lebih mirip pengajian ibu-ibu heheh

        Setelah menaruh barang-barang, kami semua berkumpul di pendopo rumah. Acara dimulai dengan MC Mbak Fiesha (koor acara dari KAB:p) dan dibuka oleh Mas Ganang sebagai PJ klaster agro dari SCCF dan Mas Risal sebagai ketua Agronesian#4. Selanjutnya acara materi pertama oleh Mbak Dhanur Saudah, salah satu penulis buku 5 Pilar Kedaulatan Pangan. Beliau merupakan salah satu alumnus FTP UGM yang kini sibuk dengan karir penelitiannya dan berkebun di kampung halamannya di Wonosobo. Paparan materi beliau sangat menarik dan sayangnya kami semua kekurangan waktu karena para mbak mas panitia sudah berkali-kali memberi alert kepada Mbak Dhanur huhu:(( Padahal aku masih ingin mendengarkan dan tanya-tanya:((

Foto bersama Mbak Dhanur :) *banyak muka nggak siap

        Acara dilanjutkan dengan materi kedua oleh Mas Mohammad Ibnu Fajri dari Kimia 2013, mantan ketua LSis FMIPA, yang menyampaikan materi tentang networking. Mas Ibnu mengatakan bahwa networking menjadi sebuah urgensi karena dapat mewujudkan tujuan tertentu dan membuka wawasan. Tak lupa, Mas Ibnu juga memberi beberapa tips and trick to have a strong network. Di akhir sesi Mas Ibnu menyuruh kami berkumpul dalam kelompok dengan tugas membuat suatu komunitas. Yang dia contohkan adalah perkumpulan aa burjo se-Pogung wqwqw. Aku dan kelompokku sendiri membuat komunitas pecinta pesisir hehehe.

Ini yang namanya mas Ibnu, inisiator aa burjo se Pogung

        Selanjutnya materi ketiga disampaikan oleh Mas Miftahush Shirotul Haq, alumnus dari Peternakan UGM yang datang bersama istrinya, Mbak Dian, hwehehehe. Mas Miftah menyampaikan materi tentang self-development. "Dimana kita berpijak, disitu kita memberi manfaat", begitu kata-kata dari Mas Miftah. Beliau mengatakan bahwa self-development berarti kemampuan beradaptasi di lingkungan baru dan belajar untuk dapat memberi manfaat. Hidup merupakan sebuah seni untuk mensyukuri. Dari kebiasaan yang kecil kita pasti dapat merubah hidup kita. Jadilah mahasiswa yang berprestasi, lulus, dan segeralah menikah hwahahaha=)) Sayang juga waktu materi oleh Mas Miftah hanya sedikit:( Padahal beliaunya asyik:(

Mas Miftah. Kaya ibu-ibu pengajian (lagi)

        Cusss ke materi keempat oleh Mas Salim Fauzan, Sekjend SCCF, yang menyampaikan materi tentang SCCF. SCCF sendiri singkatan dari Study Club Communication Forum, yaitu kumpulan kelompok studi se-Gadjah Mada. Mas Salim menyampaikan banyak tentang SCCF dan memutar video dari SCCF yang cukup menarik.

Mas Salim & Mas Imam & Para Ukhti

        Materi kelima oleh Mas Imam Nurhidayat dari Peternakan 2011 yang menyampaikan materi tentang Sinergitas Ilmu dalam Keluarga Harmoni. Diawal sesi Mas Imam mengadakan pretes hftttt yang ternyata soalnya cuma ditanya apakah anda bahagia? Apa yang anda dapat seharian ini? Apakah anda sudah kenal teman-teman disampin anda? Wkwk untungnya aku dah pada kenal. Mas Imam meyampaikan bahwa mahasiswa adalah tentang pilihan. Ada banyak tipe mahasiswa, kupu-kupu, kura-kura, kuper, dll. Kita dapat mencontoh kebiasaan baik orang lain dengan menerapkannya pada diri kita (konsep role model).

        Akhirnya selesai juga sesi materi seharian itu. Ada breaknya juga sih hwehehe. Sore itu kita diberi free time hingga menjelang Isya. Aku dan teman-teman cewek berkumpul di kamar, buka makanan dan haha hihi. Mbak-mbak panitia sendiri juga ikut nimbrung bersama. Pokoknya rasa keluarganya kental banget. Aku, Mamah, dan Evi memutuskan turun ke masjid untuk mandi, meninggalkan mereka-mereka yang tidak mandi karena kalau mandi esok hari pasti dingin bangeeeet hehehe.

        Setelah semua selesai bersih-bersih kami semua berkumpul lagi di pendopo untuk makan malam dan persiapan pensi. Makan nasi goreng. Ada kejadian yang bikin huft waktu itu. Pokoknya tentang si Johan! Sumpah aku nggak enak sama dia:( Ya bikin ngakak tapi kok ya kasian:( Mana temen-temen cuma pada ngakak:( Udah lah lupakan hft. Malam pensi super seruuuuuu! Kami semua berkumpul melingkari api unggun yang dinyalakan di halaman depan. Kelompokku pensi yaitu Mamah, Ariska, Ajik, dan Tatok mendapat bagian musikalisasi puisi, tampil pada urutan kedua. Saat selesai tampil kami ditanya mengapa memilih lagu Sahabat Kecil by Ipang, dijawab saja, biar kalau lagu ini diputar lagi entah kapan dimana, bakal ingat tentang malam yang syahdu ini waqaqaqa. Kami kemudian bernyanyi bersama dan bermain mini games. Yang jadi highlight malam itu adalah si Antin yang cute yet sweet, digodain terus sama Mas Anjar yang jadi MC wqwqw. Sekitar pukul 22.00, acara pensi ditutup. Sebelum beristirahat, kami semua berkumpul dahulu di pendopo mendengarkan pemutaran lagu Foska yang diciptakan Mas Pandhu dengan nada lagu Dragon Ball wqwqw. 

       Pagi datang dan peserta makin berkurang:( Anak kehutanan pulang dari kemarin sore (termasuk mbak mas panitianya juga), Mamlu & Nico (teman dari KAB) pulang juga, Lala & Yanis (anak Fosmapet) pulang soalnya ada magang, Tatok & Antin & Mufli (anak VSC) pulang soalnya ada praktikum, dan yang bikin sebel, si Ajik (dari KAB juga, seprodi lagi) juga pulang tanpa pamit kampret-__-. Jadilah peserta pagi itu bersisa 13 orang dan yang cowok tinggal Fajar dan Johan-_- Pukul 06.00 kami disuruh berkumpul di halaman depan. "Senam-senam dulu lah.", kata Mas Anjar. Eh ternyata dia juga gabut dan males dan kita batal senam dan jadinya kita buat kelompok untuk outbond nanti. Memilih teman outbond sesuai dengan ingatan kita tentang nama belakang teman kita tersebut-_-  Aku sendiri berkelompok dengan Illa, Ariska, dan Nisa dengan nama kelompok Labu beryelyel kereta malam Allahuakbar wqwqw. Kemudian kita sarapan dengan ubi sambil ngobrol-ngobrol. Setelah jam menunjukkan pukul 07.30, kami berkumpul lagi di halaman depan, berbaris sesuai kelompok. Setelah perang yel-yel, berangkatlah peserta outbond. Kelompok Labu dan Histosol (Mamah, Evi, dan Alin) berangkat kloter kedua, menunggu sekitar 20 menit duduk di teras. Karena kami cewek semua, kami sempat membuat formasi "Assalamualaikum" untuk tiap pos:))

        Pos pertama berada di lapangan voli dengan judul pos Voli Air dengan penjaga pos Mbak Dita dan Mas Pandhu. Tiap kelompok diberi satu sarung dan dengan sarung itu kami melemparkan bungkusan air bak main voli, makanya dinamakan voli air. Kelompokku awalnya unggul, tapi karena kesombongan dan kesosoan kami, kalah deh:( But the funniest part is waktu Mamah keceprotan air bener-bener itu bungkusan air nyeprot right to her face waqaqaq=)))

Voli air hehe

        Pos kedua kami berjalan lagi yang ternyata itu hanya putar-putar desa-_- Di pos kedua ini judulnya Agronesian Pintar *yeyyyyy* *efek suara* *apasih*. Ya mirip-mirip E*t B*laga gitu. Dan asem kelompokku kalah lagi:((

        Pos ketiga kami mulai memasuki rimbunnya kebun salak. Di pos ini kita disuruh berkenalan dengan nama lengkap, asal kelompok studi, asal daerah, makanan kesukaan, dan sabun yang dipakai. Permainannya adalah kita disuruh berjongkok dan dibatasi dengan sarung sehingga saling tidak kelihatan. Ini pos lucu sih. Aku yang berdiri pertama kali dan dikelompok lawan ada si Evi. Kami semua tampaknya saling shock sehingga terbata-bata, padahal siapa yang paling hafal menyebutkan identitas lawan dia yang menang. Untunglah aku dapat mengalahkan Evi walaupun aku dibully Mas Anjar karena logat mBantulku terutama saat berkata "KAB", "b" with its bold khas mBantul hft. Dan akhirnya kelompok Labu menangggg ayeyeeee! Wqwqw.

        Pos keempat kami makin turun ke kebun salak. Jalan cukup sempit dan tidak ada pegangan. Ada sih pegangan, tumbuhan salaknya itu, tapi sama aja banyak durinya:( Di pos ini ada Mbak Fiesha dan Mas Zay. Nama posnya lupa:( Kami disuruh turun ke kali, sekitar selutut, dan gamesnya adalaaaaah bagaimana kita dapat mempertahankan nyala lilin padahal kita saling menciprat air. Kami semua saling mencari daun lompong untuk pelindung lilin. Aku dan Ariska melindungi lilin, dan Illa-lah yang menjadi penyerang. Brusbrusbrusbrus ciprat-cipratan air dan klebus:( TAPI SERU DAN KAMI MENANG (LAGI) EHEHEHEHE=))).
Kaya gini ciprat-cipratannya :D

Selesai ciprat-cipratan

        Pos kelima kami makin turun ke kebun salak (lagi). Jalan cukup sempit dan tidak ada pegangan. Ada sih pegangan, tumbuhan salaknya itu, tapi sama aja banyak durinya:( (lagi). Pos ini juga berada di kali (lagi). Di pos lima sudah ramai, ada kelompok sebelum kami dan mbak mas panitia yang tadi jaga pos ikut turun. Mbak Risa dan Mas Ganang menjelaskan aturan main yaitu bagaimana kita bisa membawa bola pingpong dengan pelepah pisang menuju pralon yang ditaruh di seberang kali. Oke. Jangan lupa kalinya banyak batunya, yah hitung-hitung akupuntur-_- Dengan semangat aku mengerahkan seluruh kelompokku *eaaaaaa* daaaaan KAMI MENAAAAANG!!!! WAQAQAQAQAQA=))

Me, Mamah, Evi, and Mas Gan's back. Maaf kalo mukanya epic.



     Acara outbond berakhir di pos 5 tersebut. Kami kemudian berfoto bersama ala-ala di atas kali (fotonya dari bawah soalnya, pokoknya gitu deh) hehehe. Kami kembali ke rumah Mbah Darmo menyusuri kebun salak dan naik tanjakan berkali-kali, i mean itu bener-bener nanjak-_-
Capek? Jelas. Senang? BANGET!


Ini lho potonya,dari bawah takenya wqwq

        Setelah sampai di rumah Mbah Darmo kami bersih-bersih. Well, karena keterbatasan kamar mandi, aku dan Evi memutuskan turun numpang mandi di rumah warga ehehehe. Warga Tlatar ramah-ramah kita boleh numpang mandi :D Selesai bersih-bersih kami semua makan siang ahayyyy. Karena perut Soeharto kami yang tadi pagi hanya sarapan ubi dan tawaran Mba Salma, "Makan yang banyak ya dek! Pokoknya yang banyak! Lauknya turah-turah!", cusss kami makan sop, tempe goreng, dan irisan telur dengan bahagia wkwk.

        Selanjutnya kami disuruh beres-beres tempat dan berkumpul kembali duduk melingkar di pendopo. Kami tidak boleh duduk berdampingan sesama peserta maupun panitia, jadi harus acak seperti ituh wqwq. Acara ini judulnya sarasehan, begitu kata Mba Fiesha. Setelah musyawarah, yang agaknya kami semua memang memilih Fajar, terpilihlah Fajar dari ASC sebagai koordinator Foska 2016 *applause* dan wakilnya si cici Elin dari ASC jugaaa *applause lagi*

        Harapan dari mbak-mas yang sudah tua-tua *eh, Mas Ganang dan Mas Imam contohnya *eh tua, bahwa kita harus meneruskan kekeluargaan Foska agar keakraban antara kelompok studi se klaster agro makin kuat. Acara selanjutnya yang bakal ditunggu sebagai follow up dari Agronesian#4 adalah Agrowarrior! Yuhuuu can't wait!

        Rangkaian acara 2 hari itu akhirnya ditutup dengan doa dan foto bersama:) Lalu,kami pulang sama-sama berboncengan setelah sebelumnya kami pamit dengan Mbah Darmo dan pihak desa Tlatar.

Foto bareng hehe

Itu saja sekelumit cerita dari Agronesian#4.
Intinya tetep, terimakasih:) Terima kasih untuk memberiku jangkar yang lain, yang menjagaku untuk tetap bertahan di sini, inshaAllah :)

And thank you for reading anyway!:D

Monday, July 18, 2016

This is It! Part 1

Hellooo, is anyone waiting for my story again?
Well, sure i have a lot of things to write to share, but idk i felt like idk yea.
And there goes one of my most-fluental (oh man ignore my grammar) story, i've told you before right on the first post, yep, my college life!


May 6th, 2016
Pengumuman kelulusan di sekolah. Semacam wisuda begitu harusnya, pakai kebaya-kebaya begitu harusnya, dapat kalung kelulusan atau apalah begitu harusnya, tapi, tapi sekolahku enggak. Setelah seremonial ini itu dan dibagilah nilai UN.
Jebret.
Alhamdulillah aja sih. I got 49,XX for the NE score.
Aku pulang dengan bahagia, setidaknya pengorbananku untuk ini tidak sia-sia. Aku dapat pelukan hangat dari ibu, yang dulu, di SMA yang sama denganku, beliau mendapat nilai 42. Walaupun yah, nilai UN ini sebenarnya tidak berarti apa-apa untuk kedepannya tapi menurutku itu prestige sendiri, apalagi kalau ngerjainnya jujur dan penuh pengorbanan yep.
Udah sih bahagianya segitu aja, ini belum apa-apa bo.


May 9th, 2016
Eng ing eng, tau nggak ada apa? Pengumuman lagi lah.
Pengumuman SNMPTN Jalur Undangan.
Jangan tanya pilihanku apa, aku tetep setia, sama TPHP-nya UGM.
Cuma milih dia sebiji doang pula.
Alasannya sederhana, kalau aku keterima pilihan kedua dan aku nggak terlalu suka since SNMPTN is just like iseng-iseng berhadiah, so daripada aku kena karma, aku setia, dah gitu aja.
Oiya sebelumnya aku udah divonis sama Kanit GO Bantul, Pak Vijay, "Kamu kalo milih TPHP nggak lolos deh kayaknya, nilai fisikamu ini lho turun, ini kan teknologi, ya fisikanya nggak boleh turun toh. Tapi ya kalo kamu tetep mau ambil ya ambil aja nggak papa coba."
Hah.
Rasanya tervonis di depan itu yah.
Patah-patah ada paitnya gitu.
Aku pun saat itu tidak punya pilihan lain yang aku benar-benar tertarik karena aku hanya ingin fokus pada satu tujuan, kerja di Indofood apa Nestle. Bukan goal yang muluk tapi aku suka, ya suka-suka gue lah.
Ketika jam menunjukkan pukul 14.00, segera aku duduk manis di depan PC. Membuka laman mirror snmptn, di snmptn.ugm.ac.id, masukkan NISN dan tanggal lahir dan.....
Eng ing eng~~~~~~~~
Merah coy wqwq
Terus udah, ya udah.
Nggak terus yang histeris bagaimana-bagaimana begitu
Kayak yang "Oh yaudah" berarti ya enggak
Karena aku pun sebenarnya tidak pernah mengharap dari jalur ini since persaingan sangat ketat bo, lagipula aku kan udah tervonis di depan jadi yah, aku pun merasa siap ikut next battle, SBMPTN.


Between May 9th - May 31th, 2016
Jangan tanya aku ngapain aja.
Tanya sama orang-orang GO Gose, apa mentor-mentor di zenius.net.
Berhari-hari makanan cuma soal soal soal pembahasan pembahasan tryout tryout tryout nggak lolos nggak lolos.
Jangan tanya juga aku milih prodi apa.
Masih setia mz/mb.
Dan, masih, belum lolos.
Pernah sekali lolos, itu sih karena soal tryoutnya kebetulan udah ada beberapa yang pernah aku kerjain HAHAHA.
Selebihnya masih zonk kok, passing grade masih setia nangkring di 40,xx %.
Mulai ada rasa takut tuh. Tapi rasa yakin juga masih ada h3h3h3h3.
Aku pun masih belum punya pilihan kedua, hingga ketika malam kala aku hendak finalisasi peserta, barulah aku bertanya kepada bapak dan ibu, aku ini menurut beliau-beliau mau dibawa kemana selain ke pelaminan sekitar 7 tahun lagi, hwehehehe. Aku sempat tertarik dengan ilmu tanah, menurutku mata kuliahnya materinya seru dan menantang, tapi bapak tidak mengijinkan dan beliau memberi alternatif memilih di bidang perikanan atau kelautan pokoknya yang air-air. Malam itu pula temanku mengirim daftar passing grade dari salah satu bimbel hitz di Kota Yogyakarta, yang wowwwwwww, passing grade TPHP wowwwwwww, 47,XX %.
Gila gila gila.
Aku tidak boleh mundur hanya karena passing grade yang menurut aku yang pas-pasan ini termasuk selangit.
Setelah pilah pilih sana sini, waktu itu sudah pukul 11 malam, dan akhirnya aku menemukan pilihan kedua by Raisa, eh itu kali kedua kan ya, yaitu Teknologi Hasil Perikanan. Yah nyrempet-nyrempet agak sama dengan TPHP yaitu Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian. Dengan keyakinan jikalau daratan menolakku, mungkin perairan masih mau memihakku. Oiya, im interest in those past-product tech so yea selagi masih teknologi hasil, why not?
Dan begitu akhirnya, aku memilih TPHP UGM di pilihan pertama dan THP UGM di pilihan kedua.
Setelah finalisasi peserta, aku mendapat kartu ujian dan tinggal menunggu hingga hari H.


May 31th, 2016
TODAY IS THE DAY!
Setelah kemarin sore survey, aku mendapat lokasi di SV UGM KTPU, pagi-pagi aku berangkat, diantar bapak, padahal sebenarnya pengen berangkat sendiri, tapi dilarang ibuk, katanya kasian hw3h3h3h3.
Saat itu rasanya uwis prek dengan segala materi, intinya aku sudah lelah. Malamnya aku pun tak menyentuh buku lagi, bahkan malah jajan sate kambing di Jejeran.
Sampai sana dan menunggu akhirnya aku bertemu dua orang teman sekolah, asik, nggak kesepian.
Bel berbunyi pada akhirnya, dan aku pun masuk ruangan. Yah biasa gitulah soal-soal dibagikan, mengisi identitas, menunggu bel, dan mulai kerjakan.
Sesi pertama TKD Saintek, bro.
Biasanya sih aku suka mengerjakan dari belakang so i opened biology first.
Hm aja, kaya biasanya kalo tryout, hm gitu, biasa nggak bisa.
Dan yang kupelajari nggak keluar, tambah hm kan.
Kemudian lanjut kimia, agak lumayan ngerjain tujuh biji soal apaya, lupa, pokoknya lumayan deh.
Terus fisika. F I S I K A .
Apa-apaan ini, soal apa-apaan ini hft.
Selama ini fokusku fisika adalah mekanika, gelombang, listrik rangkaian, dan ituloh fotolistrik dkk, sama suhu dan kalor juga lumayan nyantol.
Nah tapi ini kok yang keluar, relativitas semua bro, hampir berapa soal itu relativitas yang aku tak pernah sekalipun sentuh.
Mekanika yang biasanya aku sayangi karena soalnya lumayan mudah, ini juga berubah menjadi jahat. Sebenernya nggak jahat juga, aku sendiri yang kurang ngertiin dia, HAHAHA.
Oke i was feeling so rapopo dan aku hanya mengerjakan 4 soal, dari target 5 soal dengan keyakinan benar cuma 2 soal wakakakak.
Lanjut matematikaaaaaaaa.
HAHAHAHAHAHAAAAAAAAAAAAAAA.
SOAL APA INI HAHAHAHAHAAAAAAAAAAAAAAA.
Q TA BISA MEMAHAMINYA.
SEDIKITPUN Q TA BISA.
HA HA HA HA HA -- yang kemudian tawa ini menjadi tangisan.
Seriously aku keinget ibuk di rumah.
"Ibuk, anakmu ini tidak bisa mengerjakan soal Matematika Saintek, Ibuk, maafkan aku Ibuk.."
Bener, sebiji soal aku tak ada yang nyantol. Padahal biasanya saat mengerjakan soal-soal tahun lalu, tanpa belajar dulu pun pasti ada satu soal yang aku bisa menjawab, lha ini bro, pas giliran SBMPTNku bro, w ngga bisa ngerjain bro.
Dengan pesimisme bakal gugur karena nilai mat bakal minus, aku tetap mengerjakan. Aku bulat hitam dua nomor, dan serius aku benar-benar tidak tau cara mengerjakan soal itu.
Setelah selesai pada akhirnya hahahah, bel berbunyi dan kami para peserta diberi waktu istirahat setengah jam untuk selanjutnya adalah sesi kedua dengan materi TKPA.
Oke, aku berharap banyak pada TKPA walaupun aku juga sudah pesimis karena si mat saintek itu.
Dan waw ternyata ya model-model soalnya ya, baru-baru semua coy.
Di tengah-tengah sisa sakit kepala karena soal-soal saintek sial itu, aku mengerjakan TKPA dengan motto "Sing penting yakin" ala mas Kecuk, temen sekelas w.
Well, akhirnya bel berbunyi dan aku keluar ruangan dengan lega, akhirnya hari ini, 31 Mei yang ditunggu-tunggu ini, selesai juga huft.
Bapak sudah menunggu di parkiran dan aku pulang dengan perasaan yang masih belum lega, masih ada next battle lagi, UM UGM.


Between June 1st - June 4th, 2016
Masih sama
Masih sama dalam dekapan soal-soal UM UGM 2005 sampai 2015.
Melihat kesusahanku, yea well sebenernya aku akhirnya merasa pusing juga, tapi masih dengan keyakinan aku pasti lolos PTN entah jalur yang mana, ibu menyuruhku mendaftar PTS. Beliau semacam khawatir karena aku belum mendapat kuliah (yaelah ibu, ujiannya juga baru kemarin), dan untuk melegakan hati ibuku, sebagai anak yang baik, aku mendaftar ke prodi Farmasi di salah satu PTS di Yogyakarta yang Farmasinya katanya favorit dengan jalur raport. Terus keterima, terus registrasi juga, terus tes bahasa inggris dkk itu dengan rasa malas hoam. Bukannya apa-apa, aku memang tidak ada feeling untuk masuk PTS apapun itu karena sederhana, prodi yang aku inginkan tidak ada disana.
Sehari sebelum UM UGM, penyakitku kambuh, dan well itu membuatku seharian hanya bisa tidur dan kehilangan waktu-waktu berhargaku mempelajari soal-soal UM UGM.
Udah pasrah, sepasrah-pasrahnya.


June 5th, 2016
Aku menghadapi hari itu dengan santai.
Aku berangkat sendiri.
Yang jelas tidak setegang kala SBMPTN.
Semua akan baik-baik saja.
Aku yang kemarin tidak sempat survey tempat, jadi salah masuk gedung. Aku mendapat tempat di Sekolah Pascasarjana UGM. Tulisannya sudah terpampang nyata bahwa menuju kesana belok kiri, aku dengan polosnya belok kanan. Yaudah deh, untung ada beberapa orang yang bisa kutanya. Kemudian aku berjalan ke gedung Sekolah Pascasarjana yang well agak lumayan. Belum lagi saking ndesonya, jelas-jelas aku sudah sampai depan gedung, tapi karena bentuknya semacam gedung kuna begitu aku jadi takut kalau salah masuk jadilah aku mutar lewat pintu belakang dekat parkir, yang banyak orang, maklum waktu itu yang jalan aku sendiri karena motorku diparkir di gedung sebelah huft.
Kendesonan belum sampai di situ. Kulihar ruang ujianku di ruang 403. Sampai di lantai pertama gedung, tidak ada tanda-tanda ruang ujian. Hanya ada front desk dan lift dan tangga melingkar. Hah, aku sudah ketinggalan lift dan lagipula aku tak bisa mengoperasikan lift sendirian dan sebenarnya lagi aku takut naik lift h3h3h3h3.
Jadilah aku naik tangga, dan yang ternyata ruangannya ada di LANTAI 4.
Oke, nggak papa, sudah berjalan lumayan jauh, dan sekarang naik tangga lumayan banyak.
Akhirnya aku menemukan ruangan dan duduk di depan ruangan dengan sedikit terengah-engah. Sial. Keringetan. Jadi bau ewh.
Tak lama menunggu ada dua orang cewek menghampiri aku lupa namanya, yang kuingat satunya bernama Sarah. Lumayan, ada yang bisa diajak bicara.
Setelah itu things went the way it should be, lumayan bisa dikerjain soal-soalnya h3h3h3h3.
Yang jelas, jelas banget nih, setelah pulang dari UM UGM, perasaanku benar-benar yang lega benerrrrrrr coy.
Seenggaknya perjuanganku sudah maksimal hingga titik ini, capek bener-bener capek.
Bener-bener udah yang nggak mau pegang buku lagi habis ini.
Belum lagi esok harinya udah masuk bulan Ramadhan.
Pokoknya, apapun hasilnya nanti, aku udah nggak mau memaksakan diri lagi.
Cukup, cukup aku belajar sampai sini.

to be continued,
udah malem,
masih banyak tugas,
h3h3h3h3.